19
Jul
12

Wisuda Hubungan Internasional UNIFA

Hari Rabu, 18 Juli 2012 merupakan hari bersejarah bagi Universitas Fajar sebagai institusi pendidikan swasta di Makassar, terutama Program Studi Hubungan Internasional. Prodi HI pada akhirnya telah berhasil mewisuda 5 mahasiswa angkatan pertamanya dengan rata-rata IPK 3,0.

“Semoga apa yang telah didapat di masa kuliahmu bisa menjadi bekal untuk menata masa depan kalian” demikan potongan pepatah dari Ketua REI Indonesia Timur dalam Orasi Ilmiah pada acara Wisuda V UNIFA.

25
Apr
10

rafael dari subang mengundang Anda ikut jaringan Teman Kuliah Anda

Undangan ikut jaringan social Teman Kuliah

20
Mar
10

Menyikapi Kedatangan Obama ke Indonesia

SEMAKIN banyak berbicara, semakin terlihat kejahilannya. Itulah ciri khas kelompok liberalis. Setidak-tidaknya, itu diperlihatkan Ulil Abshar Abdalla dalam acara “Debat Kontroversi kedatangan Obama” di studio TVOne, Jakarta, Rabu (17/3/2010).

Dalam debat bertema “Obama Disayang Obama Ditentang” itu dihadiri dua kubu yang saling berseberangan. Dari pihak yang mendukung kedatangan Obama ke Indonesia, tampil dua narasumber: Ulil Abshar (Jaringan Islam Liberal) dan Effendy Choirie (Partai Kebangkitan Bangsa), sedangkan dari pihak yang menolak Obama diwakili oleh dua narasumber: Ismail Yusanto (Hizbut Tahrir Indonesia), Ali Mocthar Ngabalin (Partai Bulan Bintang).

Debat yang disiarkan secara langsung mulai pukul pukul 19.30 WIB itu dibagi dalam dua sesi yang diselingi dengan berbagai iklan. Pada sesi pertama, Ismail Yusanto berdebat dengan Ulil Abshar, disusul dengan debat sesi kedua antara Ali Mochtar Ngabalin dengan Effendy Choirie.

Ulil Abshar berapi-api menyatakan dukungannya terhadap rencana kedatangan Obama ke Indonesia, dengan ungkapan khas Arab “ahlan wa sahlan bihuduri Obama.”

Sebagai anak didik Amerika, agaknya bisa dimaklumi bila Ulil sangat memuji Obama dan Amerikanya. Mungkin itulah apresiasi balas jasa yang dipersembahkan kepada negara yang telah memberikan beasiswa program magister di Universitas Boston, dan studi tingkat PhD di Department of Near Eastern Languages and Civilizations di Universitas Harvard.

Tapi Ulil –yang lama hidup di negara Amerika– itu menjadi sangat tidak wajar jika ia tidak tahu tentang Amerika. Berangkat dari ketidaktahuan itulah, Ulil memuji Amerika sembari menghina Islam, lalu menganjurkan umat Islam supaya belajar (baca: berkiblat) ke Amerika dalam mengatasi masalah diskriminasi.

“Ada pelajaran penting yang bisa diambil dari pengalaman Obama di Amerika.
Ini luar biasa. Jadi orang Islam harus belajar bagaimana mereka mengatasi diskriminasi. Di dalam negara Islam itu diskriminasi masih banyak sekali,” kata Ulil.
Continue reading ‘Menyikapi Kedatangan Obama ke Indonesia’

21
Jan
10

Kajian Gender : Fenomena Emansipasi Perempuan

Judul artikel diatas terinspirasi dari presentasi perkuliahan Kajian Gender oleh Mr. Aspiannor Masrie.

Teori feminisme dalam isu keamanan dan lingkungannya :

Barry Commoner memaparkan, manajemen lingkungan merupakan pengaturan rumah tangga secara global. Dalam pandangan ini, perumpuan dianggap yang mengurus dunia (Internal Background) seperti : penjaga dapur, penghibur, ibu pertiwi (tidak ada bapak pertiwi).

Menurut realis (Morghentou) hanya laki-lakilah yang menguasai kekuasaan. Mc. Candle juga menjelaskan “siapa yg menguasai jantung berarti menguasai seluruh tubuh (dunia)”.

Berikut fenomena gender dalam ELEMEN KEKUATAN NASIONAL :

1. Luas wilayah Negara

2. Kualitas SDM

3. Kemampuan industry

4. Kemampuan militer (persenjataan & personil)

5. Kuantitas sda

6. Kualitas pemerintahaan

7. Kualitas diplomasi

8. Semangat nasional

9. Demografi

Dalam luas wilayah Negara : Ketika wilayah Negara semakin kuat maka laki-laki maupun perempuan berperan dalam memperkuat wilayah Negara.

Dalam kualitas SDM :  masih banyak sensitif gender terjadi pada perimbangan kualitas antara laki2 dan perempuan di wilayah pekerjaan.

Peran perempuan dalam partisipasi politik di Indonesai sudah mulai maju. Hal tersebut bisa kita lihat sebagai berikut:

1999 – 9%

2004 – 11 %

2009 — > 30%

Dalam Kemampuan industry : realita pegawai buruh kasar lebih banyak digunakan karena lebih sabar, lebih tekun, mau dibayar murah, jarang mengeluh dan melawan. Sedangkan mandor jarang dilihat berasal dari perempuan.

Dalam Kemampuan militer : tugas patriotisme utk menjaga Negara adalah laki-laki, dan rata2 yang menjadi pahlawan kebanyakan laki-laki  … namun perempuan diberlakukan tugasnya hanya di dapur, perawat, penghibur tentara dalam tugas di medan pertempuran. Kurangya keterlibatan perempuan dalam penentuan kebijakan keamanan memperkuat posisi perempuan hingga saat ini masih terpinggirkan.

Dalam sumber daya alam : Mereka mengatakan bahwa kerusakan lingkungan terjadi karena tidak adanya keseimbangan peran antara laki2 dan perempuan dalam pemeliharaan lingkungan yang sehat. Seorang perempuan identik menanam pohon dan laki-laki identik dengan mencangkul karena dibutuhkan tenaga. Menghacurkan identik dengan laki-laki, membereskan / mendamaikan identik dengan perempuan.

Dalam kualitas pemerintahan : belum berimbangnya pejabat2 setingkat menteri antara perempuan dan laki2. Di wilayah Indonesia timur belum ada seorangpun yang bisa menjadi bupati.

Dalam kualitas diplomasi : masih kurangnya peran perempuan di wilayah kebijakan luar negera terutama dalam jabatan sebagai dubes di luar negeri.

18
Jan
10

Globalisasi : Fenomena Masyarakat Dunia

Selama berabad-abad, masyarakat manusia di seluruh dunia telah melakukan hubungan hampir tanpa batas. Baru-baru ini, kecepatan integrasi global telah meningkat secara dramatis. Belum pernah terjadi perubahan dalam komunikasi, transportasi, dan teknologi komputer telah memberikan dorongan baru proses dan membuat dunia lebih saling bergantung dari sebelumnya. Produk manufaktur perusahaan-perusahaan multinasional di banyak negara dan menjual kepada konsumen di seluruh dunia. Uang, teknologi dan bahan baku yang semakin bergerak dengan cepat melewati batas-batas negara. Bersamaan dengan produk dan keuangan, ide-ide dan budaya lebih bebas beredar. Akibatnya, hukum, ekonomi, dan gerakan sosial yang terbentuk di tingkat internasional.

Situs ini tidak hanya mempertimbangkan Globalisasi Ekonomi, tetapi juga Globalisasi Politik, Budaya dan Hukum. Menyapu dunia global pergi peraturan dan merongrong lokal dan politik nasional, seperti konsolidasi negara bangsa tersapu ekonomi lokal, dialek, budaya dan bentuk-bentuk politik. Globalisasi menciptakan pasar baru dan kekayaan, bahkan seperti luas menyebabkan penderitaan, kekacauan, dan kerusuhan. Ini adalah kedua sumber penindasan dan katalis untuk gerakan global keadilan sosial dan emansipasi. Besar krisis keuangan 2008-09 telah mengungkapkan bahaya yang tidak stabil, deregulasi, ekonomi global tetapi juga melahirkan inisiatif global yang penting untuk perubahan.

Istilah globalisasi mencakup rentang sosial, politik, dan perubahan ekonomi. Mendefinisikan bagian dalam Globalisasi, kami menyediakan pengenalan pada tombol perdebatan. Bahan-bahan yang bertanya apa yang baru, apa yang mendorong proses, bagaimana perubahan politik, dan bagaimana hal itu mempengaruhi lembaga-lembaga global seperti PBB.

Globalisasi memperluas dan mempercepat pertukaran ide dan komoditas lebih dari jarak luas. Hal ini umum untuk mendiskusikan fenomena dalam istilah yang sangat umum, namun dampak globalisasi sering dipahami terbaik di tingkat lokal. Globalisasi kasus menggali berbagai manifestasi dari keterkaitan di dunia, mencatat bagaimana globalisasi mempengaruhi orang dan tempat yang nyata.

Globalisasi seringkali muncul menjadi kekuatan alam, sebuah fenomena tanpa batas atau alternatif. Tetapi masyarakat telah menunjukkan bahwa gerakan-gerakan ini tidak dapat diubah atau tidak dapat dihindari. Warga negara di seluruh dunia-orang-orang biasa dari global dan Utara-Selatan dapat bekerja sama untuk membentuk berjangka alternatif, untuk membangun sebuah globalisasi kerjasama, solidaritas dan penghormatan terhadap lingkungan planet kita bersama.

16
Dec
09

Paradiplomasi Dalam Politik Luar Negeri Indonesia

Sebagai salah satu upaya mengoreksi penyelenggaraan pemerintahan yang tersentralisasi, Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam Sidang Istimewa tahun 1998 telah mengeluarkan suatu ketetapan yakni Ketetapan MPR No. XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah, Pengaturan, Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan; serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam rangka pelaksanaan amanat MPR tersebut, telah diundangkan dua   undang-undang masing-masing Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Selain itu juga telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom.

Sebagaimana tercantum dalam diktum konsiderannya, salah satu pertimbangan diadakannya Undang-undang No. 22 tahun 1999 adalah dalam rangka menghadapi perkembangan keadaan baik di dalam maupun di luar negeri serta tantangan persaingan global. Oleh karena itu dipandang perlu menyelenggarakan otonomi daerah dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata, dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional, serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah, sesuai dengan prinsip­prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, dan keadilan, serta potensi dan keanekaragaman daerah, yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.1

Ketetapan MPR dan peraturan-peraturan perundang-undangan tersebut merupakan tonggak baru dalam pelaksanaan otonomi daerah dan penyelenggaraan pemerintahan yang terdesentralisasi.2

Berangkat dari pokok-prokok tersebut, tulisan ini akan membahas masalah otonomi daerah dari aspek atau sudut pandang hubungan internasional. Penulis berpendapat bahwa dengan semakin luasnya kapasitas dan kewenangan daerah, dan semakin deras dan lancarnya arus informasi, pergerakan modal dan migrasi manusia antar wilayah dan negara, daerah-daerah baik propinsi maupun kabupaten/kota tidak akan mampu mengelakkan diri dari pengaruh internasional. Dengan kapasitas itu mereka secara alamiah akan melakukan perluasan atas perannya. Aspek internasional dalam hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi relevan diangkat manakala diperhatikan semakin mengemukanya isu-isu integrasi dan disintegrasi nasional.

Sebagai kerangka pikir, tulisan ini menggunakan konsep paradiplomasi yang dikembangkan oleh Ivo Duchachek (1990) dan Panayotis Soldatos (1990)

Pemerintah Sub Nasional sebagai Aktor dalam Hubungan Internasional

Arti penting diplomasi dalam kehidupan suatu negara bangsa dapat dipahami melalui konsepsi kekuatan nasional. Dalam konsepsinya mengenai kekuatan nasional, Morgenthau (1961) memasukkan kualitas diplomasi sebagai salah satu dari sembilan unsur kekuatan nasional.3 Morgenthau memberikan pengertian diplomasi sebagai perumusan dan pelaksanaan politik luar negeri di semua tingkat dari yang teratas sampai yang terbawah. Dalam pandangan Morgenthau semua kekuatan nasional adalah bahan baku yang menentukan bentuk kekuatan negara, kualitas diplomasi suatu negara menggabungkan faktor-faktor yang berlainan itu menjadi satu keseluruhan yang terpadu, memberikan arah dan bobot dan membangkitkan kemampuan yang potensial dan memberikan nafas kekuatan yang riil. Singkatnya diplomasi adalah otak kekuatan nasional sedangkan moral nasional adalah jiwanya.

Continue reading ‘Paradiplomasi Dalam Politik Luar Negeri Indonesia’

17
Nov
09

Memahami Game Theory

Teori permainan adalah alat yang dapat membantu menjelaskan dan mengatasi masalah-masalah sosial. Sejak permainan seringkali mencerminkan atau berbagi karakteristik dengan situasi nyata – khususnya kompetitif atau koperasi situasi – mereka dapat menyarankan strategi untuk menghadapi keadaan seperti itu. Sama seperti kita mungkin dapat memahami strategi pemain dalam permainan tertentu, kita mungkin juga dapat memprediksi bagaimana orang-orang, faksi-faksi politik, atau negara akan bertindak dalam situasi tertentu.

Sama seperti orang pada umumnya mencoba untuk memenangi pertandingan, orang juga mencoba untuk “menang” atau mencapai kepentingan atau tujuan mereka dalam situasi kompetitif. Namun, baik dalam permainan dan di dunia nyata, kita umumnya mengikuti seperangkat aturan untuk melakukan hal ini. Beberapa game, seperti beberapa situasi nyata adalah “pemenang-take-semua.” Permainan ini adalah sifat mereka sangat kompetitif, karena hanya satu orang bisa menang. (Catur akan menjadi contoh seperti permainan.) Other permainan, bagaimanapun, memerlukan kerja sama untuk menang. Banyak yang lebih baru video game, misalnya, memerlukan strategi koperasi di antara beberapa pemain agar setiap pemain tunggal untuk maju. Di dunia nyata, bahkan selama masa permusuhan, saingan umumnya memiliki kepentingan bersama dan harus bekerja sama untuk beberapa derajat. [1] Bahkan selama Perang Dingin, walaupun secara intens penyanderaan Timur-Barat, Moskow dan Washington bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama mereka menghindari perang nuklir.

Apa Teori Permainan? Continue reading ‘Memahami Game Theory’




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.